-----------------------------
"Ramaaaa,.."
Teriakan itu terdengar begitu kencang dari arah kejauhan,
lalu Rama berbalik 180° dari tempat ia berpijak.
Terlihat sosok perempuan berambut panjang berwarna coklat, bermata almond, dengan paras wajahnya yang cantik dan memakai dress pendek sambil berlari menghampirinya.
"Hai.. "
Sapa perempuan itu ramah, sambil melontarkan senyuman termanisnya.
Rama mendadak bingung, sontak ia hampir melupakan sosok perempuan itu..
sambil menunjuk dan mencoba mengingat - ingatnya kembali.
"Ini aku Dinda, Dinda temen SMA mu, masa kamu lupa sama aku?"
Dengan nada Dinda yang sedikit sedih.
"Kamu benar Dinda?"
Tanya Rama sambil memastikan nya kembali.
"Yaa.. "
Dinda mencoba meyakini nya.
"Lho?? Lagian bukan nya kau melanjutkan sekolahmu di Jerman yah? kok sudah pulang?"
Rama yang semakin bingung karna Dinda sudah sangat berbeda dari yang dulu ia kenali.
"Iyah, baru saja kemarin sampai Indonesia, aku kurang suka sekolah disana.
Aku ingin melanjutkan kuliah ku disini saja dan ikut bersama tante untuk membantu ia buka usaha butiknya yang baru. Oyah bagaimana kabar mu Ram? Aku kangen banget deh sama kamu."
"Syukurlah kalo memang itu yang terbaik.
Hmmm.. kabar ku baik, bagaimana dengan mu? kamu kok bisa ada disini sendirian?"
"Akupun begitu.. Tadinya aku mau belanja tapi berhubung perut ku gak bisa diajak kompromi jadi aku mau makan dulu deh, kebetulan aku juga ketemu kamu.
Yuk.. ikut temani aku. Sambil kita cerita - cerita. Bagaimana?"
Ajak Dinda yang mulai sedikit agresif.
"Boleh, Aku juga tadinya kesini hanya ingin mencari tempat untuk menikmati secangkir kopi saja. but, no prob, sekalian menemanimu."
Sambil menikmati alunan musik jazz di dalam caffe, dengan menunggu hidangan menu makanan yang dipesan. Perempuan keturunan bule itu terus mengoceh menceritakan kehidupannya sewaktu ia di Jerman kepada Rama. Tanpa peduli dengan suasana yang begitu tentram dan damai diruangan itu..
Berasa milik mereka berdua.
Rama melamun hampir tak percaya bahwa ia sedang berbicara dengan Dinda teman sekelasnya yang dulu sangat cupu, sering memakai kacamata tebal dan rambut yang terkadang di kepang atau di kuncir dua itu. Dulu ia sering sekali di ejek oleh teman - temannya "bule cupu".
Namun yang aku lihat sekarang.
Ia begitu cantik dan lucu.
Lalu lamunan Rama terbuyarkan karna dinda mengagetkannya.
"Ramaaa! Kamu kok ngelamun sih, kamu dengerin aku gak? aku udah cerita panjang - panjang gini. "
Wajah nya mulai bete.
"Eh iyah, Maaf.. Maaf.
aku masih ga percaya loh Din, kalo sekarang kamu beda banget sama yg dulu. "
"Hahaha, ouh.. Jadi itu yang membuat kamu sampai terpaku melihat aku? Nada nya sedikit pede.
Sepertinya kau harus melupakan Dinda yang dulu Ram, ini Dinda yang sekarang."
Lagi lagi ketawanya yang manis dengan mata yg menyipit - nyipit itu membuat Rama gemas ingin mencubitnya.
"Lah kamu sendiri belom cerita sama aku Ram, profesi kamu sekarang jadi apa?"
Timpa dinda yg tiba-tiba berhenti tertawa.
"Aku sih gini - gini aja, masih nerusin kuliah, lagi sibuk buat skripsi dan bantu - bantu Ayah di perusahaan nya."
"Wah bagus dong bisa ikut kerja sama Ayah. Emmm.. Ngomong - ngomong kalo tentang pasangan sih bagaimana?"
Lirik jail Dinda kepo.
"Hahaha, dasar.. kamu mau tau aja yaaa?
Aku sekarang lagi menjalin hubungan bersama Sella, Din.
Dia orang Bandung, masih sekolah kelas 3 SMA. Yaa.. Walaupun brondong tpi aku menyayanginya."
"Woahh, bagus dong.. Aku kira kamu ga laku. Hahahaha."
Dinda hanya pura - pura tertawa puas, padahal mendengarnya seperti berasa mendapatkan 1000 tusukan tajam di hati nya.
"Eh.. enak saja, aku gini - gini juga tampan dong buktinya Sella aja bisa lengket banget tuh sama aku, emangnya kamu masih jomblo."
Ejek Rama yang mulai keterlaluan, gak berbeda jauh saat ia masih SMA.
"Damn! Ternyata sifat mu yang dulu gak perna ilang yah. Hahahaha."
Pukulan Dinda meleset ke arah Rama, dan Rama pun tertawa menang.
Sesudah mereka kenyang, tukeran id line dan berbagi informasi, Rama pun mengantarkan Dinda sampai depan rumahnya, tadinya Dinda mengajak untuk mampir dulu tapi karna sudah larut malam
Rama memutuskan untuk pulang.
Mungkin kapan kapan saja.
-----------------------
Triiiiiiiiingggg, Triiiiiiiiingggg..
Suara alarm yang berdering sangat kencang dari ponsel Sella tiba-tiba membangunkan nya.
Ini sudah rutinitas Sella memasang alarm setiap hari di jam 05.00 subuh.
Dengan mata yang masih merem melek, rambut yang sangat berantakan, lalu ia menggambil anduk dan segera membawanya ke kamar mandi.
Sesudah memakai baju, sarapan bersama ayah, ibu dan adik perempuannya yg bernama Lisa..
Tiba tiba bel rumahnya pun berbunyi.
tingnongg~
Firasat Sella tidak salah lagi.
Itu pasti Ramaa...
Ucapnya dalam hati.
"Tungguu bentarr."
Teriak Sella sambil terburu2 memakaikan sepatunya.
Lalu dibuka lah pintu tersebut, dengan kagetnya Sella mendapatkan ucapan dan senyuman manis dari seorang lelaki tampan, tinggi, putih, yg sangat ia cintai.. sedang berdiri di hadapan nya sekarang.
"Selamat pagi tuan putri, sudah siap?" Tanya nya lembut.
Sella hanya menganggukkan kepalanya (tanda iya) dengan pipi yg mulai memerah seperti buah apel.
Rama menyubit pipinya yg chubby itu, ia paling senang melihat Sella tersipu malu seperti ini akibat ulahnya.
Kau begitu sangat manis Sella.
Lalu pandangan Rama terfokus menuju arah belakang Sella.
Nampaknya, ada ayah dan ibunya Sella yang senyum - senyum memperhatikan mereka berdua. Mungkin karna mengingat masa remaja nya kembali.
Rama tak lupa mengucapkan salam hangatnya kepada mereka.
"Selamat pagi om, tante, saya anter Sella berangkat dulu yah."
"Ya, hati hati dijalan." Kata Ibu dan Ayah Shella serentak.
Sepanjang jalan Sella masih terdiam malu, ya wajar mereka baru jadian 3 hari yang lalu dan baru kali ini Sella dijemput Rama ke sekolah untuk pertama kalinya.
"Sel, ntar pulangnya kamu sama aku lagi yah, aku mau ajak kamu jalan - jalan. Kamu mau kan?"
"Okey siap.. siapa sih yg gak mau diajak jalan - jalan apalagi sama pangeran tampan kaya kamu.. hehehe."
gombalan maut Sella yang gak seperti biasa nya membuat Rama tertawa geli.
"Hahaha, bisa aja kamu tuan putri" sambil memberantaki rambut Sella.
Sella pun merasa sedikit risih dan merapihkan nya kembali.
Tak lama kemudian Rama menekan rem mobilnya dengan perlahan.
Karna sudah sampai di depan gerbang sekolah nya Sella.
"Makasih yah Ram." Dengan senyuman imutnya, yang membuat Rama tak henti - henti memikirkannya.
"Yaa, hati - hati yah.. I love you.."
"I love you too Ram."
Sambil melambaikan tangannya,
karna mobil yang ia lihat saat ini mulai melaju dan menjauh darinya.
--------------------
Dari tadi Dinda kebingungan mencari Sasya sahabat lamanya, kami sudah berjanji hari ini untuk bertemu didepan Mall Plaza.
Tapi Sasya sama sekali belum terlihat batang hidung nya, sudah berapa kali sahabatnya itu menelpon nya tetapi tidak ada jawaban.
Dinda pun mulai bete. Tak lama kemudian sekitar 5 menitan terdengar suara cempreng yang ia sangat ia rindukan.
"Dinda..?"
"Iyah, ini aku.. Kenapa kamu liat nya aneh gitu. Kamu lama banget sih..! "
Nada Dinda yang sedikit kesal.
"Lo beda banget Din, sampe dari jauh gue gak kenal lo.
Hahaha.. sorry tadi gue kejebak macet. " timpalnya mengeles.
"Sudahlah.. Banyak orang yang bicara seperti itu, aku hampir bosan mendengarnya.
Jangan alesan..! Aku sudah menunggumu daritadi sa!"
Dinda tau banyak tentang Sasya yang dari dulu demen sekali ngaret, dan sampai sekarang sifatnya gak berubah juga.
"Hmmm.. Maafin gue.
jadi kita mau ngapain nih Din disini?" Sasya yang mengalihkan perhatianya, agar Dinda tidak lagi bete akibat ulahnya.
.....
Dinda pun terdiam sebentar dan kemudian mengagetkan Sasya.
"Kita mau nontoooonn saaa, kitaa nontooonnnn.. Uwaaaa..!!! "
ucap Dinda senang kegirangan.
"Haaaa?? gausah malu - maluin gue deh Din, lo kaya yang ga perna nonton aja disana."
"Emang." Ucapnya Dinda yang begitu sinis.
"Aku udah lama sekali ga perna nonton Sa selama disana, aku paling kangen waktu bareng sama kamu tuh.. ya itu, nonton dan makan baso nya bang panjul, baso favorite kita waktu dulu pas SMA itu."
"Yaudah mumpung gue lagi banyak waktu senggang, dan sekalian nyenengin kamu juga.. Apa boleh buat lah. hahaha."
"Halahhh sok sibuk banget!
Tapi kok gitu sih, kaya yang kepaksa.. "
Wajah Dinda pun berubah sedih.
"Biasa lah efek finansial.. "
Lirik kan jail Sasya seperti memberikan kode yang sulit sekali ditebak kepada seorang lelaki.
"Aah selalu saja.. Baiklah."
Dinda pun menyerah karna dia peka dengan apa yang dipikirakan Sasya tadi.
"Terimakasih barbie ku. Cimi Cimikuuu!!..."
Sasya menyubit pipi Dinda dengan kencang sekali sampe Dinda kesakitan dan mengelus - ngelus pipinya.
Mereka pun melanjutkan langkahnya sambil tertawa membawa popcorn kedalam bioskop dan menonton film yang telah mereka nantikan.
-------------------------
"Hmmm.. Rama mana yah."
Sella membuka dan menutup kembali ponselnya. Tidak ada satu pesan pun yg masuk di layarnya.
Tak lama kemudian ponselnya pun bergetar ..
You'll always be a part of me
I'm a part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling cause you'll always be my baby.
dan seperti biasa dengan ringtone Always Be My Baby nya David Cook yang sangat Sella Sukai mengalun dengan merdunya..
Ia kegirangan mengangkat ponselnya, karna dilayar nya sekarang muncul nama yang tak asing lagi untuknya.. "Rampa'am <3"
*cklik..
"Hallo,... Ra..."
"Sayang, kamu dmn?"
Belom selesai berbicara, Rama pun memotong pembicaraan Sella.
"Aku udh didepan gerbang nih, kamu ada dimana?"
Sella mulai khawatir.
"Aku bentar lagi sampai, soalnya tadi macet banget."
"Okey, Yang penting kamu hati-hati yah."
"Iyah makasih chubby.. "
tut.. tut.. tut..
Ditutuplah telpon tersebut dengan cepat oleh Rama, mungkin karna ia sedang repot mengendarai mobilnya.
Sella sudah berdiri selama 30 menit yang lalu, baru lah terlihat mobil yang ia kenali. Mobil itu langsung mendarat didepan Sella yang sudah terlihat mulai jenuh menunggunya.
Keluarlah Rama yang langsung membuka kan pintu mobilnya untuk Sella.
"Sekali lagi maaf ya sayang.." Katanya lembut, membuat Sella tak tega menegurnya kembali.
"Yaa, aku mengerti kok.. Kita mau kemana sih Ram?" Tanya Sella yang sudah tak sabar ingin tahuinya.
"Ada deh, yang pasti kamu akan senang.. " Rama membuat Sella semakin penasaran.
Rama merupakan type lelaki yang romantis, Selalu ada kejutan yang ia rancang seaneh mungkin, apalagi untuk seseorang yang sangat ia kagumi seperti Sella.
Sedangkan Sella adalah anak orang kaya yang tidak banyak neko - neko, dari gaya pakaiannya, tingkah laku dan dia lebih suka makan ditempat - tempat biasa daripada direstaurant - restaurant besar. Memperlihatkan kalo ia lebih suka gaya hidup yang sederhana.
Lumayan jauh dari sekolah nya, Mulai memasuki ke daerah kawasan berbukit - bukit. Yang jalan nya agak menanjak terus ke atas..
Ntahlah ini dimana, kata Sella dalam hati.
Sesudah sampai di bukit yang paling atas, mobilnya pun berhenti dan..
"Jengjrengggggg~
ini dia tempatnya.."
Rama bagaikan pangeran negeri dongeng yang sedang menunjukan kerajaanya nya kepada sang puteri.
"Whaaaa!!! Kerenn sekali Ram, ini tempat apa? Kamu sering kesini?"
Nampaknya sang puteri pun mulai terkagum - kagum melihat apa yang ditunjukkan oleh sang pangeran negeri dongengnya ini.
"Hahaha, kau suka? ini tempat rahasia ku, baru pertama kali aku mengajak seseorang kesini."
"Tapi ini kan tempat rahasia mu Ram, masa aku boleh tau sih?" Tanya Sella yang sedikit kebingungan.
"Cz. You're very special.. Awalnya aku tau tempat ini karna dulu perna jalan - jalan sama temenku ke bukit disebelah sana.. " Rama sambil menunjukkan ke arah banyak bukit yang ada di depan mata nya.
"Dan aku mencoba untuk berjalan - jalan, melihat keadaan sekitar sini. Karna kau tau kan aku kurang suka kebisingan.. Jadi aku penasaran dengan tempat sepi ini."
Lanjut Rama menjelaskan.
Sella hanya mengangguk - angguk mengerti.
"Gak tau kenapa aku merasakan kenyamanan disini. Sampai perna ada yang mengiraku hilang karna terlalu betah ditempat ini.
Gak ada orang yang banyak tahu dengan daerah ini, karna... kamu sadar gak di luar tadi ada tulisan.
DILARANG MASUK, BERBAHAYA?
pintu nya pun tertutup dengan semak - semak.
Ntahlah siapa yang nulis plang itu, tapi aku tidak peduli sama sekali, malah membuatku semakin penasaran. "
"Kamu tidak takut?" Kata Sella semakin was - was dengan keadaan disekitarnya.
"Tidak, Mengapa harus takut? Ada aku disini. Hahahaha.." Rama tertawa karna melihat Sella yang semakin ketakutan.
"Aku gak bercanda." bentak nya, sambil menundukan kepala nya yang ingin menangis.
"Eh??..Iyaah.. I...iyaah.. E.. enggak kok, Jangan takut, aku sudah tanya keamanan di daerah sini. Ternyata waktu itu ada orang iseng yang nulis - nulis buat nakutin aja. Mereka cuman mau supaya tempat ini gak terjamah orang banyak.
"Begitukah? ahhh.. syukurlah. " Senyumanya pun kembali seperti semula.
"Bagaimana jika kita jadikan tempat ini sebagai tempat rahasia kita berdua? setuju?
kamu boleh kok main sendiri sesuka hatimu. Semoga saja tempat ini bisa buat kamu tenang klo kamu punya masalah. Atau kamu bisa ekspresikan semua rasa emosi kamu disini, kalo kamu ada apa apa."
Sella mengangguk tanda setuju.
"Baiklah.."
.....
"Ramaaa.." Matanya Sella yang begitu lirih, seperti ingin mengungkapkan sejuta perasaannya yang sudah lama ia pendam sejak tadi.
"Hmmm?" Saut Rama yang selalu stay cool di depannya Sella.
"Aku sayang banget sama kamu, kamu tetap disini yah. " Sella menunjukkan hatinya. Sambil memeluk haru lelaki yang dihadapannya sekarang.
Rama terdiam, dan membalas pelukan Sella lalu membisikkan
"Akupun begitu..." Rama membelai rambut Sella dengan halus.
Setelah Sella melepaskannya.
"Oyah.. Aku punya sesuatu untukmu." Diambil nya sebungkus kotak berwarna Biru muda, seperti biasa warna kesukaan Sella.
"Apa ini?"
"Buka saja, ini kesukaan mu loh.."
"Jangan bilang ini trap?.. Aku gamau yang aneh-aneh ya." Tegasnya Sella mulai curiga.
Rama hanya tersenyum memperhatikannya.
dibukalah sebungkus kotak besar itu dan didalamnya terdapat banyak sekali bentuk - bentuk coklat mungil berwarna warni.
"OMG, it's really cute.. "
"Apa kan kata ku bilang.. Kamu suka?"
"I like it, ram.. and i like you. " matanya masih terfokus pada coklat - coklat yang lucu itu.
Rama gak bosen - bosen menyubit pipinya yang chubby dan menghabiskan waktunya bersama Sella ditempat itu smpai senja pun datang.
Ini adalah Senja pertamaku bersama nya.
-----------------------
"Dinnn.. lo udah ketemu Rama belum?"
Tanya Sasya yang sambil sibuk mengutak ngatik layar ponselnya.
"Sudah kok.. Hmmm, Why? Kamu kenapa tanya itu?" Wajah Dinda mendadak unmood karna mendengar nama itu lagi.
"Lah bukan nya waktu dulu lo demen banget kan sama tuh cowo. " Sasya memonyongkan bibirnya sedikit.
"Yap... Tapi sayang Rama gak menyadari kalo sampai sekarang aku masih menyimpan rasa sama dia.. Bahkan keliatanya dia sudah bahagia dengan kehidupannya yang baru menjalani hubungan dengan Sella kekasihnya yang sekarang ini dia sayangi, dari ceritanya sih cewenya cukup menarik"
"Emang lo ketemu Rama dimana? dia kan sekarang kerja di kantor depan rumah gue Din."
"Kemarin di mall Sa, lah iyah, demi apa?" Dinda pun mendadak gak bisa diem.
"Lo ke mall ga ngajak - ngajak ih.. heem serius deh, gak boong gue."
"Halaah.. kalo gue ngajak lo lagi, bisa - bisa uang gue ludes ngejajanin lo terus, lagian kemarin gue cuman belanja kebutuhan sehari - hari.
btw ntar boleh dong yah gue main kesana. hihihi"
"Dasar pelit huu.. Silahkan selagi lo masih disini."
"Daripada lo ga modal." Timpa Dinda yang mengejek.
Sasya mengambil bantal dan melemparkan nya ke wajah Dinda.
"Sasyaaaaaaaaaa...."
"Hahahaha...."
"Sial......"
Mereka tertawa terbahak - bahak tanpa menghiraukan waktu yang hampir sudah larut malam.
Lalu terdengarlah suara mamah Dinda yang seperti ingin mencerkam mereka dari jauh.
"Dinda jangan berisik..!!"
"Iyaa maa..."
"Elu sih...
"Elu....
Rama, Aku akan menunggumu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar